Menarik untuk disimak kisah seorang African, Gilbert Tuhabonye, orang yang selamat dalam pembantaian etnis di Burundi. Pria kelahiran 22 November 1974 ini adalah salah seorang yang dapat bertahan dalam pembantaian antara etnis Hutu dan Tutsi di Burundi. Dalam kisahnya, kaum Gilbert menuliskan kisahnya pada suatu ketika bersenyembuyi di bawah pinggul salah seorang teman yang masih membara selama lebih dari delapan jam dan kemudian dia mendengar ada suara yang berkata kepadanya, “Kau akan baik saja. Kau akan bisa bertahan hidup.” Gilbert menanggapinya sebagai suara Tuhan yang berbicara kepadanya.
Tuhan memelihara Gilbert dan sampai saat ini Gilbert adalah seorang atlit dunia, pelatih lari dan selebritas di kota kediamannya. Jalan hidup yang berujung dengan kesuksesan dijalaninya dengan sangat berat. Dalam bukunya, Gilbert menuliskan sebuah kalimat yang selalu menjadi nutrisi motivasi kepada banyak orang yang berbunyi demikian:
“Walaupun api membakar tubuhku tapi tak memadamkan semangatku”
Kesetiaannya akan janji Tuhanlah yang telah dan akan tetap memeliharanya, itulah yang membuat dia mampu bertahan hidup dan bahkan produktif dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Kisah Gilbert Tuhabonye mengingatkan kita tentang perjuangan Ayub. Kita semua tentunya telah tahu siapa Ayub, seorang tokoh dalam Perjanjian Lama. Kisah hidup yang begitu tragis menjadikan kisah Ayub menjadi kisah legendaris tentang penderitaan.
Sosok Ayub yang takut akan Allah, saleh, jujur dan menjauhi kejahatan berjuang menghadapi suatu penderitaan yang hebat. Ketika dia kehilagan harta bendanya dan semua orang-orang yang dikasihinya meninggalkan dia kemudian mempertanyakan keberadaan dan kepercayaannya kepada penciptanya sebuah kenyataan yang terjadi: Allah membiarkan penderitaan itu terjadi. Pertanyaan yang muncul, “Ada apa dibalik penderitaan?” Diakhir penderitaan Ayub, Allah memberikan semua yang hilang dari Ayub, bahkan dua kali lipat.
- Ketika kita mengalami penderitaan, kita cenderung berkesimpulan bahwa Allah tidak mau lagi mendengar doa-doa kita. Tetapi tidak demikian halnya, meskipun Allah mungkin tidak menjawab semua pertanyaan kita dengan mengangkat penderitaan yang kita alami.
- Kisah Ayub mempertegas kita bahwa ketika orang percaya mengalami penderitaan ataupun penganiayaan, keteguhan iman mutlak diperlukan! Berangkat dari kisah Gilbert dan Ayub, bagaimana dengan keseharian kita?
- Jika kita mau meluangkan waktu bersama Allah dalam firmanNya, Dia akan menjawab persoalan dalam kehidupan pribadi kita. Dia akan menunjukkan kepada kita, dalam hal apa saja kita telah gagal, mengapa sakit, mengapa ada persoalan, dan mengapa harus ada penderitaan lainnya. Tuhan tetap mengingatkan kejadian-kejadian hidup yang kita alami, apapun itu bentuknya.
- Kita harus menjadi orang yang tanggap terhadap keberadaan Allah yang hadir dalam penyertaan hidup kita entah dalam kegembiraan ataupun kedukaan.
- Ketika persoalan (penderitaan) berat melanda hidup kita, kita kerap merasa bahwa persoalan kita yang paling berat dibandingkan dengan persoalan (penderitaan) yang dihadapi oleh orang lain. Terkadang, mata kita tertutup dan tidak mampu menyadari bahwa masih banyak orang mengalami persoalan yang jauh daripada kita.
Kalau ada orang yang mengajak kita untuk berdialog tentang persoalan (penderitaan), kerap kita enggan dan bertahan dan merasa tidak perlu didengarkan oleh orang lain. Kesediaan untuk berbagi adalah salah satu cara untuk meringankan penderitaan kita. Di saat seperti itu kita selalu merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita. Tuhan jauh dari kita. Tuhan enggan lagi menjawab doa kita.
Penderitaan terkadang menutup mata hati rohani kita. Perlahan-lahan kita jauh dari Dia. Mulai meninggalkan ibadah lingkungan, ibadah komunitas dan seterusnya, hingga akhirnya meninggalkan total gereja. Kita mulai menilai bahwa ritus-ritus keagamaan hanya simbolik dan tidak bermanfaat. Mulai membandingkan orang lain yang hidupnya keagamaannya biasa-biasa saja, tetapi “terberkati”, mulai dari kesehatan, rejeki yang satu dengan yang lain, jodoh, pekerjaan, usaha yang berhasil dan deretan kesuksesan lainnya. Tetapi apalah hal dengan diri sendiri; mulai dari usaha yang berantakan, keluarga yang kacau balau, anak yang kecanduan narkoba, sampai pada penyakit yang tak kunjung sembuh juga bahkan nyaris mati.
Apakah jalan hidup harus selalu lurus dan mulus? Tentunya tidak.
Allah akan memakai berbagai macam cara untuk menyempurnakan hidup kita, salah satunya melalui penderitaan. Penderitaan adalah dinamika hidup karena itu, nikmatilah keindahan hidup
Referensi :
1. Gilbert Tuhabonye dan Gary Brozek. This Voice in My Heart, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2010.
2. http://www.gilbertsgazelles.com/gilbert_bio.php
wrote by lily
Tags: Renungan

